Puisi Cinta Pernikahan (untuk Pengantin Baru)

Ketika istri saya membuat karya indah lewat sebuah puisi cinta pernikahan, saya pun tidak mau kalah. Entah inspirasi dari mana yang datang menyambar begitu saja, tiba-tiba, bahasa kerennya “mak bedunduk“, lahirlah sebuah puisi – jika memang layak disebut puisi – yang saya tuangkan pada  dinding facebook saya. Menurut saya yang bukan ahli sastra, terlebih puisi, kata demi kata yang tersusun sudah membuat saya “sakit kepala”. Pertanyaannya memang sederhana “Kok bisa ya saya bikin seperti ini?”. Hehe..

Tapi ya sudahlah, mari saya ajak sobat Adipanca.com untuk membaca karya sederhana saya, Puisi Cinta Pernikahan yang saya beri judul Ketika, jadi inget film Ketika karya Dedy Mizwar 🙂

Puisi Cinta Pernikahan

Ketika lelah itu musnah terhapus senyum.
Ketika amarah itu redam terendam peluk.
Ketika penat pun lenyap terusir canda.
Ketika semua kegalauanku sirna tiada bekas.
Ketika itu, ketika dua hati menyatu.
Merajut indahnya sunnah, mengais limpahan berkah, memohon lapangnya maghfiroh.
Ketika itu, ketika halalku bersamamu

#Ketika

(Adi)

Pendek sekali ya? Ya namanya juga puisi, bahkan saya pernah membaca puisi dengan hanya satu kalimat, tapi saya lupa itu karya siapa 😀 Maaf jika karya saya ini tidak sebagus yang sobat Adipanca.com harapkan 🙁 Insya Alloh kami akan terus belajar supaya lebih baik lagi 🙂

Ketika saya kaji ulang ternyata judulnya tertukar, semestinya judul artikel sebelumnya memakai judul yang sekarang, Puisi karya istri saya yang belum ada judul itu memakai judul artikel Puisi Cinta Pernikahan. Sedangkan artikel yang saat ini sedang sobat baca lebih cocok diberi label Puisi Cinta Pengantin Baru. Kata Bondan Prakoso “ya sudah lah“, karena sudah terlanjur dan tidak ‘krusial’ ya biarkan saja. Sampai ketemu ditulisan kami selanjutnya 🙂

Leave a Reply