Mahar / Mas Kawin Terbaik untuk Calon Istri (Menurut Pandangan Islam)

“Saya terima nikah dan kawinnyanya Pulanah binti Pulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai…”

Mahar / Mas Kawin Terbaik untuk calon istri

Sobat Adipanca yang budiman, kemarin kita membahas tentang apa-apa yang harus dipersiapkan sebelum menikah, jika sobat belum membacanya, silahkan kunjungi link ini dan link ini. Dari beberapa point yang telah saya uraikan ada satu point penting yang menjadi salah satu syarat nikah, artinya ini harus ada. Ya, mahar atau biasa kita kenal dengan ‘mas kawin’. Meskipun memang mas kawin bisa dihutang terlebih dahulu, dalam artian ijab qobul dilaksanakan, baru mas kawin diberikan setelahnya-sebelum campur (silahkan baca salah satu riwayat Imam Ali saat menikahi Fatimah), namun hal tersebut memang tidak lazim di lingkungan kita. Umumnya mas kawin dibayarkan secara tunai.

Lalu apa mahar / mas kawin terbaik untuk calon istri?

Sobat adipanca yang baik, ada beberapa hal yang tentu kita harus pahami terlebih dahulu sebelum memilih mahar / mas kawin terbaik untuk calon istri. Beberapa hal di bawah ini Adipanca rangkum dari berbagai kajian dan bahan bacaan, juga berasal dari diskusi kecil Adi dan Panca ketika memilih mahar pernikahan kami 🙂

Pertama mahar adalah Simbol Pemuliaan Wanita, calon istri.

Adanya mahar merupakan sebuah syarat syah nikah. Rosululloh selalu menanyakan kepada para sahabatnya tentang apa yang akan diberikan (mahar) kepada istrinya. Syariat ini merupakan pengajaran terhadap kita bahwa seorang wanita layak untuk dihormati dan dimuliakan dengan cara membayar mahar / mas kawin terbaik sebagai tanda “dibelinya” sebuah cinta suci. Oleh karenya pemberian mahar pun harus tulus dan ikhlas dan benar-benar diniatkan untuk memuliakan wanita (QS Annisa ayat 4). Mahar yang diberikan sepenuhnya menjadi hak bagi istri dan sungguh tiada mahar bagi laki-laki dan tiada hak bagi suami kecuali jika istri memberikannya 🙂

Dari Abu Salamah bin Abdurrohman ra. “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Bagaiman mahar istri-istri nabi?’, Aisyah menjawab ‘Mahar istri-istrinya adalah dua belas uqiyah dan nasyun. Tahukah kamu apa itu nasyun?’ ‘Tidak,’ Jawabku. Ia berkata, ‘Setengah uqiyah senilai 500 dirham. Dan itulah mahar Rosululloh kepada istri-istrinya.” (HR Muslim, Abu Dawud, An Nasai)

Dan tahukah sobat berapa nilai dari 1 uqiyah? Kurang lebih 1 KG perak. Atau kurang lebih 1000 dinar, sedangkan  1 dinar saat ini antara 65ribu sampai 70ribu rupiah. Silahkan dikonversikan sendiri 🙂

Kedua mahar adalah media, bukan tujuan.

Mahar hanyalah media, bukan tujuan. Menikah bukanlah untuk mencari mahar sebesar atau semahal-mahalnya. Mahar pun bukan untuk dipamerkan kepada halayak. Mahar layaknya sebuah sedotan yang digunakan untuk minum es jeruk dalam plastik. Fungsinya adalah yang utama, meskipun bentuk dan keutuhan juga sebagai media memuliakan wanita. Jadi tidaklah terus terlalu berbelit pada urusan mahar, menusahkan diri untuk urusan mas kawin. Tujuan utama menikah bukan mahar!

Ketiga mahar tidak selalu berbentuk uang atau barang.

Mahar atau mas kawin tidak selalu berbentuk emas, perak, uang, peralatan sholat, al quran, rumah, atau barang-barang lainnya. Mahar pun dapat berupa keimanan seperti yang di mintakan Ummu Sulaim kepada Abu Tholhah, dapat berupa ilmu, atau juga hafalan Al Quran, dapat juga berupa pembebasan dari perbudakan, atau pun dengan apa yang bisa di ambil upahnya/jasa (Qs. Al-Qoshosh: 27).

“Bergegaslah dan ajari ia dua puluh ayat, maka ia resmi menjadi istrimu.” (HR Bukhori dalam An Nikah)

Keempat mahar semestinya memudahkan dan berdasarkan pada kemampuan.

Mahar semestinya tidak menyusahkan, menuntut sesuatu yang di luar kemampuan seorang laki-laki, dan memang “Sesungguhnya termasuk baiknya wanita itu adalah mudah pinangannya, mudah maharnya, dan mudah rahimnya.” (HR Ahmad). Dalam suatu riwayat ada seorang laki-laki yang meminta bantuan untuk membayarkan maharnya, saat Rosululloh bertanya, laki-laki tersebut menjawab “empat uqiyah” atau setara dengan 4kg perak. Rosululloh pun sempat marah dan berkata “Empat uqiyah? Seolah-olah kamu sedang memahat perak di permukaan gunung ini…” (HR Muslim). Rosululloh marah karena laki-laki tersebut menyiapkan mahar diluar kemampuannya sehingga menyulitkan dirinya.

Kelima mahar lebih baik merupakan hal yang calon istri butuhkan / minta.

Kadang kita ingin memberikan yang terbaik bagi istri kita, tapi seringnya itu bukan hal yang ia butuhkan, atau setidaknya bukan hal yang ia inginkan. Akhirnya ini menjadi sedikit “mubazir”. Contoh yang paling banyak dijumpai adalah pemberian mas kawin berupa al quran dan perlengkapan sholat. Padahal bisa jadi koleksi sang istri akan al quran dan mukena sudah berlimpah. Lalu untuk apa al quran itu? Banyak yang menggunakannya hanya sebagai pajangan. Nauzubilah.

Oleh karena itu ada baiknya sebelum menentukan mahar kita berdiskusi terlebih dahulu dengan calon istri kita. Meskipun memang ini tidaklah ada kewajiban dan memang semestinya tetap pada prinsip memudahkan dan sesuai dengan kemampuan suami untuk memberikan mahar. Wallohuta’ala a’lam 🙂

Mahar - Mas Kawin Terbaik untuk calon istri

Jadi sudahkan sobat menentukan mahar terbaik untuk calon istri sobat? Silahkan didiskusikan dan dipikirkan lebih dalam 😀

2 Responses to “Mahar / Mas Kawin Terbaik untuk Calon Istri (Menurut Pandangan Islam)”
  1. theme-id June 12, 2013
    • admin June 12, 2013

Leave a Reply