Cara Mengurus Surat Nikah

cara mengurus surat nikah

Semangat pagi sobat Adipanca, kami mohon maaf karena beberapa hari ini kami tidak sempat update weblog Adipanca.com. Ya, seperti biasa berbagai macam kesibukan serta kacaunya koneksi internet membuat kami merasa berat untuk update artikel. Jadi harap maklum ya sobat. 🙂

Sobat, kali ini Adipanca akan membahas tentang bagaimana Cara Mengurus Surat Nikah atau cara mendaftarkan pernikahan kita ke KUA. Step by step, biaya demi biaya (menyusul ya :)), sesuai peraturan yang berlaku, dan menurut pengalaman kami ketika mengurus pernikahan. Silahkan disimak ya sobat. 🙂

Sebelumnya kami ingin menyampaikan bahwa proses yang dilakukan oleh Calon Pengantin (Catin) Putra dan Putri sebenarnya sama saja (akan disingkat jadi CP: Calon Pengantin Putra, CW: Calon Pengantin Wanita). Perbedaannya yakni surat-surat yang diurus oleh CP khusus yang berbeda tempat/daerah disebut juga surat numpang nikah, karena pernikahan pada umumnya dilakukan di tempat CW. CP harus menyelesaikan keperluan ini terlebih dahulu kemudian diserahkan ke pihak CW, karena digunakan sebagai kelengkapan berkas CP pada saat mendaftarkan pernikahan di KUA. Inilah Cara Mengurus Surat Nikah selengkapnya.

Pertama silahkan persiapkan hal-hal berikut:

  1. Fotokopi Kutipan Akta Kelahiran atau surat outentik lainnya yang menunjukkan kelahiran.
  2. Fotokopi Kartu Keluarga (C1).
  3. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau surat lain yang menunjukkan kependudukan dengan mencantumkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
  4. Fotokopi Ijazah Terakhir.
  5. Fotokopi Akta Cerai/Surat Kematian apabila status pernikahan adalah Duda/Janda.
  6. Foto berwarna ukuran 2×3 sebanyak 4 lembar. Untuk jaga-jaga silahkan bawa ukuran 3×4 dan 4×6 masing-masing 2 lembar. Layar belakang berwarna biru ya sobat. 🙂

Langkah Kedua calon pengantin datang ke ketua RT untuk meminta surat pengantar nikah. Surat ini ditandatangani oleh Ketua RT dan Kepala Dusun (dibeberapa tempat seperti di kecamatan saya tidak harus meminta pengantar ketua RT). Kemudian catin menuju ke Kantor Desa/Kelurahan dengan membawa surat pengantar dari ketua RT dan 6 macam hal yang disebutkan pada langkah pertama. Kemudian kepala desa akan menerbitkan:

  1. Surat keterangan untuk Nikah (N1)
  2. Surat keterangan asal usul (Model N2)
  3. Surat Persetujuan Catin (Model N3)
  4. Surat keterangan Orang tua (Model N4)
  5. Surat izin orang tua bagi Catin yang berusia kurang dari 21 Tahun (Model N5)
  6. Surat Kematian bagi duda/janda mati (Model N6)
  7. Surat pengantar kehendak nikah (Model N7)
  8. Surat Pengantar ke Puskesmas (untuk Suntik TT), dan
  9. Surat keterangan hubungan keluarga CW dengan wali nikah.

Keterangan: Tidak semua model atau surat keterangan tersebut di atas akan kita terima, tentu surat-surat yang tidak perlu tidak akan diterbitkan 😀 Peristiwa kehendak nikah dicatat oleh Pembantu PPN disetiap desa dengan menggunakan formulir Buku Catatan Kehendak Nikah (Model N10) yang ditanda tangani oleh Pembantu PPN yang bersangkutan, Kepala Desa setempat dan Kepala KUA/PPN.

Langkah Ketiga Catin dan wali nikah secara pribadi mendaftarkan pernikahan ke KUA Kecamatan setempat dengan membawa berkas-berkas seperti yang termaktub pada langkah pertama dan surat-surat yang didapatkan dari kelurahan/balai desa (seperti tertuang pada langkah kedua).  Ditambah juga:

  1. Izin dari Pengadilan dalam hal kedua orang tua atau walinya yang berhak memberi izin dari catin yang usianya kurang dari 21 tahun seperti tertuang dalam pasal 5 ayat (2) huruf (f) PMA Nomor 11 Tahun 2007.
  2. Putusan Pengadilan tentang Dispensasi apabila CP berumur kurang dari 19 Tahun, dan CW kurang dari 16 tahun.
  3. Izin Poligami dari Pengadilan bagi CP yang beristri lebih dari seorang, Foto ukuran 2 x 3 ( dengan warna beground sama) catin masing-masing sebanyak 3 lembar.
  4. Izin dari kedutaan, surat tanda melapor diri, Foto kopi Pasport, dan visa bagi catin berkewarganegaraan asing.
  5. Untuk CW dan walinya juga membawa kelengkapan surat numpang nikah dari CP (bagi yang berbeda domisili) dan biasanya ditanyakan bukti telah melakukan suntik TT (jadi untuk CP tiada salah suntik TT terlebih dahulu)

PROSEDUR DI KUA

  1. Catin atau walinya mendaftarkan pernikahan dan membayar biaya kas Negara sebesar Rp 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah), sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 47 Tahun 2004.
  2. Pemeriksaan berkas pernikahan dan entri data SIMKAH (Sistim Informasi dan Management Nikah).
  3. Pemeriksaan Catin, dan wali nikah yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan yang ditanda tangani kedua Catin, Wali Nikah, Pembantu PPN dan PPN/Penghulu (Petugas Pemeriksa).
  4. Apabila ada halangan untuk melaksanakan pernikahan, diberitahukan kepada catin untuk dilengkapi. (dengan menggunakan formulir Model N8).
  5. Apabila tidak ada halangan, maka diumumkan pada papan pengumuman dan atau internet (KUA/SIMKAH Online).
  6. Apabila tidak memenuhi syarat, maka diadakan penolakan dengan menggunakan formulir Model N9.
  7. Catin yang ditolak pernikahan (karena kurang umur, sebab halnya wali atau sebab lain) dapat mengajukan permohonan/dispensasi melalui Pengadilan Agama.
  8. Pelaksanaan pernikahan dapat dilaksanakan setidaknya setelah lewat dari 10 hari kerja sejak Pemeriksaan nikah  dan Pengumunan Kehendak Nikah.
  9. Pengecualian tersebut dapat dilakukan dengan Rekomendasi dari Camat (pasal 16 ayat (2) PMA No. 11 Tahun 2007).
Buku NikahBegitulah tata cara mengurus surat nikah yang dapat Adipanca bagi dari hasil pengalaman kami juga berdasarkan prosedur yang ada di KUA. Rincian biaya yang lebih lengkapnya kami lanjutkan besok lagi ya sobat. Semoga artikel cara mengurus surat nikah ini bermanfaat. 🙂
Adipanca

Leave a Reply